You enjoy, we are happy and you are addicted

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ahlan wa sahlan bi huzhurikum
Selamat datang siapapun di
go..Blog kami KiNaDa's Kitchen, Resto rumahan dengan tawaran masakan kaya rempah, Lezat dan Sehat, melayani pesanan skala rumah tangga maupun hidangan untuk tamu dan rapat-rapat
Yen durung enak ojo dilaporke!!, nanging tulung direview

Selasa, 22 Januari 2019

Pedagogy Andragogy dan Heutagogy

Dalam pendidikan, dua pendekatan yang telah cukup kita kenal adalah Pedagogy dan Andragogy.
Secara sederhana bisa kita katakan bahwa dalam Pedagogy subjek pendidikan adalah individu berusia kanak-kanak, dan dalam Andragogy subjek pendidikan adalah individu (yang telah dianggap) dewasa. Paling tidak, ini adalah pemahaman termudah yang saya jadikan pegangan tentang kedua pendekatan in.

Namun, ada beberapa hal menarik yang kita temukan saat browsing tentang Pedagogy, yaitu secara historikal, dalam mendidik anak ada 2 peran yang terlibat. Yaitu :
1. Pedagogues (yang berperan memberi supervisi moral; kurang lebih seperti “jika kamu melakukan ini (X), maka itu (Y)” ) –> sepertinya dalam bahasa Indonesia kita sering menggunakan ungkapan pendidikan untuk hal ini.
2. Didaskalos (yang berperan menyampaikan konten / materi ajar). Berbeda dengan pendidikan, sepertinya hal ini lebih kita kenal sebagai pembelajaran.

Yang kita pahami tentang Pedagogy ini, anak tidak diperlukan untuk menyadari bahwa sedang menjalani proses belajar ataupun pendidikan.
Tentang Andragogy, sepertinya Malcom Knowles cukup menginspirasi banyak tulisan dan pengaplikasian tentang pembelajaran pada orang dewasa.
Ciri Andragogy menurut Knowles adalah individu mengambil inisiatif -dengan ataupun tanpa bantuan individu lain- dalam hal-hal berikut :
  1. Mendiagnosa kebutuhan belajar (learning needs) 
  2. Merumuskan tujuan belajar 
  3. Mengidentifikasi resources (baik dalam hal manusia ataupun material) untuk belajar 
  4. Memilih dan mengimplementasikan strategi belajar 
  5. Mengevaluasi hasil belajar

Sepertinya Andragogy merupakan pembelajaran yang dilakukan secara sadar dan cenderung sistematis.

Yang paling menarik, tentu saja Heutagogy ini. Berkenalan dengan istilah ini pun sungguh masih amat baru. Dari referensi yang ditemukan, Heutagogy merupakan pengembangan dari Andragogy. Sense yang kita dapat tentang Heutagogy ini adalah Heutagogy ini sifatnya sangat cair, fleksibel, humanis. Kebetulan referensi yang saya peroleh juga beranjak dari pendekatan yang diperkenalkan Carl Rogers yang memang adalah seorang tokoh yang berpendekatan humanis.
Heutagogy meletakkan titik berat pada pengembangan diri menjadi individu yang utuh dengan berbagai kekayaan potensinya.
Dalam Heutagogy, pengidentifikasian potensi belajar merupakan hal yang sangat dihargai, dan uniknya di dalam Heutagogy adalah proses belajar tidak bergantung pada pengidentifikasian learning needs. Salah satu hal yang diyakini dalam Heutagogy adalah “belajar bersifat alami, seperti hal nya bernafas”. Tidak mesti mematuhi prinsip linear, dan tidak mesti direncakan.

Dalam pandangan Heutagogy, belajar melibatkan kepekaan yang kadang dibahasakan sebagai intuisi. Kepekaan dalam belajar ini membimbing langkah dalam proses belajar sehingga setelah terlihat adanya hasil pembelajaran, individu tergerak untuk melakukan evaluasi.
Prinsip “alami” ini juga mempengaruhi prinsip belajar dalam Heutagogy, yaitu :
  1. Kita akan lebih mudah merasakan belajar ketika pengalaman tersebut dirasa selaras dengan keberadaan diri kita. 
  2. Pengalaman yang dirasa tidak selaras dengan derap diri kita akan mengalami penyaringan sehingga barangakali tidak sempat menyentuh diri kita, terlebih kita tangkap sebagai pembelajaran. Namun, bukan berarti kita tidak akan pernah dapat mempelajari hal baru, karena…. 
  3. Hal-hal yang sebelumnya kita rasa tidak selaras dengan derap diri kita akan tetap dapat “menyentuh” kita jika kita dapat meminimalisir saringan atau filter diri kita.
Jika pemahaman saya tidak terlalu meleset jauh, dua hal utama yang menjadi tujuan Heutagogy adalah kapabilitas dan self-efficacy.

Dalam pemahaman Heutagogy, individu yang kapabel akan lebih mampu untuk secara efektif menghadapi lingkungan yang turbulen.
Untuk dapat mengembangkan diri menjadi individu yang kapabel, kita akan sangat terbantu jika mengusahakan beberapa hal berikut
  1. membangun self-efficacy yang “all-round” 
  2. mengetahui bagaimana cara agar belajar 
  3. merengkuh kreativitas 
  4. mampu memanfaatkan kompetensi diri, baik di situasi yang dirasa istimewa ataupun situasi yang dirasa biasa-biasa saja 
  5. sanggup bekerja sama dengan orang lain
Saat membaca ini sembari juga merenungkan pertanyaan umpan balik tentang disiplin dan motivasi dalam pendekatan Heutagogy. Sepertinya, salah satu keindahan dari Heutagogy ini adalah ketika diri kita telah mengalami “dicolek” oleh pembelajaran akan sesuatu yang menggugah kognisi dan emosi kita, intuisi kita seolah “unjuk gigi” dan mengarahkan ke mana perlu melangkah selanjutnya.
Ketika pengalaman “a-ha!” ini terjadi, maka bisa jadi istilah “disiplin” yang biasanya terasosiasi dengan suatu keteraturan, ketaatan yang cenderung kaku dan saklek mengalami perubahan wujud menjadi lonjakan dan luapan semangat untuk lebih “ngeyel” menggali lebih jauh dari pembelajaran tersebut.
Sehingga dalam Heutagogy, disiplin menjadi suatu energi yang secara alami memberi motivasi dan menggerakkan roda pembelajaran.

Radione sing duwe Radio

Radione sing duwe Radio
Cem macem tak iye

Sinau Tajwid

THE FINE TARGET

THE FINE TARGET
Call Person

Fishing in Art

Fishing in Art
Mau lihat situasi laut...click gambar