Pedagogy
Andragogy dan Heutagogy
Dalam
pendidikan, dua pendekatan yang telah cukup kita kenal adalah Pedagogy dan
Andragogy.
Secara
sederhana bisa kita katakan bahwa dalam Pedagogy subjek
pendidikan adalah individu berusia kanak-kanak, dan dalam Andragogy subjek
pendidikan adalah individu (yang telah dianggap) dewasa. Paling tidak, ini
adalah pemahaman termudah yang saya jadikan pegangan tentang kedua pendekatan
in.
Namun,
ada beberapa hal menarik yang kita temukan saat browsing tentang Pedagogy,
yaitu secara historikal, dalam mendidik anak ada 2 peran yang terlibat. Yaitu :
1.
Pedagogues (yang berperan memberi supervisi moral; kurang lebih
seperti “jika kamu melakukan ini (X), maka itu (Y)” ) –> sepertinya dalam
bahasa Indonesia kita sering menggunakan ungkapan pendidikan untuk hal ini.
2.
Didaskalos (yang berperan menyampaikan konten / materi ajar).
Berbeda dengan pendidikan, sepertinya hal ini lebih kita kenal sebagai
pembelajaran.
Yang
kita pahami tentang Pedagogy ini, anak tidak diperlukan untuk menyadari bahwa
sedang menjalani proses belajar ataupun pendidikan.
Tentang
Andragogy, sepertinya Malcom Knowles cukup menginspirasi
banyak tulisan dan pengaplikasian tentang pembelajaran pada orang dewasa.
Ciri
Andragogy menurut Knowles adalah individu mengambil inisiatif
-dengan ataupun tanpa bantuan individu lain- dalam hal-hal berikut :
- Mendiagnosa kebutuhan belajar (learning needs)
- Merumuskan tujuan belajar
- Mengidentifikasi resources (baik dalam hal manusia ataupun material) untuk belajar
- Memilih dan mengimplementasikan strategi belajar
- Mengevaluasi hasil belajar
Sepertinya Andragogy merupakan
pembelajaran yang dilakukan secara sadar dan cenderung sistematis.
Yang
paling menarik, tentu saja Heutagogy ini. Berkenalan
dengan istilah ini pun sungguh masih amat baru. Dari referensi yang ditemukan,
Heutagogy merupakan pengembangan dari Andragogy. Sense yang kita dapat tentang
Heutagogy ini adalah Heutagogy ini sifatnya sangat cair, fleksibel, humanis.
Kebetulan referensi yang saya peroleh juga beranjak dari pendekatan yang
diperkenalkan Carl Rogers yang memang adalah seorang tokoh yang berpendekatan
humanis.
Heutagogy meletakkan titik berat pada pengembangan diri menjadi individu yang utuh dengan berbagai kekayaan potensinya.
Heutagogy meletakkan titik berat pada pengembangan diri menjadi individu yang utuh dengan berbagai kekayaan potensinya.
Dalam
Heutagogy, pengidentifikasian potensi belajar merupakan hal yang sangat
dihargai, dan uniknya di dalam Heutagogy adalah proses belajar tidak bergantung
pada pengidentifikasian learning needs. Salah satu hal yang diyakini dalam
Heutagogy adalah “belajar bersifat alami, seperti hal nya bernafas”. Tidak
mesti mematuhi prinsip linear, dan tidak mesti direncakan.
Dalam
pandangan Heutagogy, belajar melibatkan kepekaan yang kadang dibahasakan
sebagai intuisi. Kepekaan dalam belajar ini membimbing langkah dalam proses
belajar sehingga setelah terlihat adanya hasil pembelajaran, individu tergerak
untuk melakukan evaluasi.
Prinsip “alami” ini juga mempengaruhi
prinsip belajar dalam Heutagogy, yaitu :
- Kita akan lebih mudah merasakan belajar ketika pengalaman tersebut dirasa selaras dengan keberadaan diri kita.
- Pengalaman yang dirasa tidak selaras dengan derap diri kita akan mengalami penyaringan sehingga barangakali tidak sempat menyentuh diri kita, terlebih kita tangkap sebagai pembelajaran. Namun, bukan berarti kita tidak akan pernah dapat mempelajari hal baru, karena….
- Hal-hal yang sebelumnya kita rasa tidak selaras dengan derap diri kita akan tetap dapat “menyentuh” kita jika kita dapat meminimalisir saringan atau filter diri kita.
Jika pemahaman saya tidak terlalu
meleset jauh, dua hal utama yang menjadi tujuan Heutagogy adalah kapabilitas
dan self-efficacy.
Dalam pemahaman Heutagogy, individu yang kapabel akan lebih mampu untuk secara
efektif menghadapi lingkungan yang turbulen.
Untuk dapat mengembangkan diri menjadi individu yang kapabel, kita akan
sangat terbantu jika mengusahakan beberapa hal berikut
- membangun self-efficacy yang “all-round”
- mengetahui bagaimana cara agar belajar
- merengkuh kreativitas
- mampu memanfaatkan kompetensi diri, baik di situasi yang dirasa istimewa ataupun situasi yang dirasa biasa-biasa saja
- sanggup bekerja sama dengan orang lain
Saat membaca ini sembari juga merenungkan
pertanyaan umpan balik tentang disiplin dan motivasi dalam pendekatan
Heutagogy. Sepertinya, salah satu keindahan dari Heutagogy ini adalah ketika
diri kita telah mengalami “dicolek” oleh pembelajaran akan sesuatu yang
menggugah kognisi dan emosi kita, intuisi kita seolah “unjuk gigi” dan
mengarahkan ke mana perlu melangkah selanjutnya.
Ketika pengalaman “a-ha!” ini terjadi,
maka bisa jadi istilah “disiplin” yang biasanya terasosiasi dengan suatu
keteraturan, ketaatan yang cenderung kaku dan saklek mengalami perubahan wujud
menjadi lonjakan dan luapan semangat untuk lebih “ngeyel” menggali lebih jauh
dari pembelajaran tersebut.
Sehingga dalam Heutagogy, disiplin
menjadi suatu energi yang secara alami memberi motivasi dan menggerakkan roda
pembelajaran.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar