1.
Belajar Cara Belajar
Di bidang pendidikan heutgogi (heutagogy),
konsep yang pertama kali diciptakan oleh Stewart dari Southern Cross University, merupakan studi tentang belajar yang
ditentukan oleh diri pembelajaran sendiri. Gagasan ini adala perluasan dari
reinterpretasi andragogi, dan mungkin pembedan itu merupakan “kesalahan” yang
sama ketika orang secara kasat mata berusaha membedakan antara pedagogi dan
andragogi. Namun, ada beberapa perbedaan antara dua yang menandai salah satu
dari yang lain.
Titik
tekan heutagogi khusus pada perbaikan belajar cara belajar, dua keluk belajar (double loop learning), kesempatan
belajar universal proses non-linear, dan arah sejati diri pelajar. Jika
andragogi berfokus pada cara terbaik bagi orang dewasa untuk belajar, heutagogi
juga mensyaratkan bahwa inisiatif pendidikan termasuk peningkatan keterampilan,
sebenarnya yang belajar itu adalah masyarakat sendiri, mereka belajar cara
belajar dan juga belajar mata pelajaran yang diberikan itu sendiri. Pada
andragogi fokus pendidikan bersifat terstruktur, sedangkan dalam heutagogi
semua konteks pembelajaran dianggap mengkombinasikan dimensi formal dan
informal.
Belajar
Benar-benar Belajar
Seperti telah diuraikan sebelumnya, Malcom S.
Knowles (1970) telah menyarankan perubahan penting dalam cara di mana
pengalaman pendidikan untuk orang dewasa harus dirancang. Pendekatan itu
dikenal sebagai andragogi yang dibedakan secara kontras dan cukup tajam dengan
pedagogi. Menurut Stewart Hase dan Chris Kenyon, permasalahannya, baik pada
pedagogi maupun andragogi, tidak cukup jelas apakah siswa atau peserta didik
itu benar-benar belajar. Konsep diri yang menentukan seseorang benar-benar
belajar itu disebut heutagogi. Heutagogi dibangun di atas teori humanistic dan
pendekatan belajar mulai digagas pada 1950-an. Ini menunjukkan bahwa heutagogi
sesuai dengan kebutuhan peserta didik di abad ke dua puluh satu, khususnya
dalam pengembangan kemampuan individu. Sejumlah implikasi dari heutagogi untuk pendidikan, termasuk
pendidikan tinggi dan kejuruan menjadi pembahasan yang cukup intensif.
Pendidikan
secara tradisional nyaris selalu dilihat sebagai hubungan pedagogis antara guru
dan pelajar. Guru yang selalu memutuskan apa yang pelajar harus tahu dan
bagaimana pengetahuan dan keterampilan yang harus diajarkan. Hasil penelitian
puluhan tahun terakhir memang telah cukup untuk melahirkan sebuah revolusi
dalam pendidikan mengenai bagaimana orang belajar dan hasil dari itu membuat
guru dapat bekerja lebih lanjut tentang cara pengajaran dan hasil yang
diperoleh. Sementara konsep andragogi (Knowles, 1970) memberikan pendekatan
yang berguna untuk meningkatkan metodologi pendidikan, dan memang telah
diterima hamper secara universal, meski masih memiliki konotasi dari hubugan
guru dengan peserta didik.
Dengan
demikian, dapat dikatakan bahwa tingkat perubahan yang cepat dalam masyarakat
yang disebut sebagai era ledakan informasi, bahwa kita sekarang harus melihat
sebuah pendekatan pendidikan di mana peserta didik sendirilah yang menentukan
apa dan bagaimana belajar itu harus dilakukan. Heutagogi, karenanya merupakan
suatu studi tentang pembelajaran yang ditentukan secara mandiri oleh
pembelajaran, dapat dilihat sebagai suatu perkembangan alamiah dari metodologi
pendidikn sebelumnya – terutama dari pengembangan kemampuan – dan mungkin
menyediakan pendekatan optimal untuk belajar di abad ke dua puluh satu.
2.
Revolusi Berpikir
Kini kita tidak perlu lagi berdebat pada
pedagogi pada satu sisi dan andragogi pada sisi lain, melainkan bagaimana
melakukan revolusi berpikir untuk mengubah dunia di mana kita menjalani
kehidupan. Kita tengah hidup pada sebuah dunia di mana informasi murah dan
mudah diakses, perubahan begitu cepat sehingga metode tradisional untuk
pendidikan dan pelatihan sama sekali tidak memadai lagi; kepatutan
mempersiapkan diri untuk hidup di masyarakat modern dan di tempat kerja
berbaris disiplin ilmu pengetahuan; belajar semakin selaras dengan apa yang
kita lakukan; struktur organisasi modern memerlukan praktik pembelajaran yang
fleksibel; dan ada kebutuhan untuk percepatan belajar. Sebagai respon terhadap
lingkungan ini muncul beberapa pendekatan inovatif yang diharapkan mampu
mengatasi problema pedagogi dan andragogi.
Manusia
esensinya memiliki semangat belajar. Berkaitan dengan ini Rogers (1969) mengemukakan
bahwa orang ingin belajar dan memiliki kecenderungan alami untuk melakukannya
sepanjang hidup mereka. Bahkan Rogers berpendapat kuat bahwa pembelajaran yang
berpusat pada guru telah terlalu lama berlangsung. Dia menekankan pembelajara
berdasarkan pendekatan yang berpusat pada siswa dengan lima hipotesis kunci.
a. Guru tidak bisa mengajar orang lain secara
langsung, mereka hanya dapat memfasilitasi pembelajaran.
b. Orang-orang belajar secara signifikan hanya
untuk hal-hal yang mereka anggap melibatkan pemeliharaan atau peningkatan
struktur diri.
c. Pengalaman yang bila diasimilasikan akan
melibatkan perubahan dalam organisasi diri cenderung dilawan melalui penolakan
atau distori simbolisasi, serta struktur dan organisasi diri tampaknya menjadi
lebih kaku di bawah ancaman.
d. Pengalaman yang dianggap tidak konsisten
dengan diri sendiri hanya dapat diasimilasikan apabila organisasi diri saat ini
dalam suasana santai dan dengan cakupan yang diperluas.
e. System pendidikan yang paling efektif
meningkatkan hasil belajar secara signifikan adalah salah satu yang mengancam
diri, karena belajar direduksi untuk mencapai tujuan yang minimum.
3.
Kelukan Ganda
Sebuah kontribusi besar bagi pergeseran
paradigm dari berpusat pada guru ke paradigm heutagogi dibuat oleh Argyris dan
Schon (1996) dalam konseptualiasi mereka mengenal kelukan atau simpulan belajar
ganda (Double loop learning). Belajar kelukan ganda melibatkan kita menantang
penggunaan teori-teori serta nilai-nilai dan asumsi kita, bukan sekadar
bereaksi terhadap masalah dengan strategi yag ditemukan pada kelukan tunggal
belajar. Dalam menggambarkan pelajar yang berhasil dalam belajar Long (1990)
menyarankan bahwa belajar adalah sebuah proses aktif di mana individu-individu
menerima pengalaman atau memperoleh umpan balik dan melakukan evaluasi melalui
pengalaman hidup.
Sebagai
konsep baru dalam belajar, heutagogi menawarkan tentang bagaimana orang
belajar, menjadi kreatif, memiliki efektivitas diri tingkat tinggi, dapat
menerapkan kompetensi dalam situasi kehidupan, dan dapat bekerja secara baik
dengan orang lain. Dibandingkan dengan kompetensi yang terdiri dari pengetahuan
dan keterampilan, kemampuan adalah atribut holistic. Mengembangkan orang agar
menjadi mampu, membutuhkan pendekatan inovatif untuk belajar secara konsisten
dengan konsep heutagogi, yaitu perlu berbasis kerja. Belajar dan kontrak
belajar adalah dua contoh dari proses yang dirancang untuk memungkinkan orang
menjadi mampu. Fokus proses ini pada “belajar bagaimana belajar” dan “belajar
untuk apa”, bukan berpusat pada guru. Membantu orang-orang untuk menjadi
“mampu” memerlukan pendekatan baru pada pengelolaan belajar.
Beberapa
penulis telah meninggalkan tentang bagaimana substansi belajar dipahami sampai
terakhir, karena penting untuk membuat perbedaan antara “belajar yang
diarahkan” serta “belajar mandiri dan heutagogi”. Bukan heutagogi yang
merupakan metamorphosis diri andragogi, melainkan merupaka perpanjangan konsep
yang menggabungkan “pembelajaran yang diarahkan” dengan “pembeljaran mandiri”,
berbasis pada potensi dan kesadaran sendiri. Gagasan bahwa pendekatan pedagogis
dalam belajar yang mungkin tidak sesuai untuk orang dewasa, merupakan lompatan
penting. Andragogi atau pendekatan pembelajaran bagi orang dewasa segera
menjadi bagian dari kosa kata yang serata dengan kata pendidik, pelatih, atau
akademisi.
4.
Adaptasi Manusia
Pendekatan heutagogis untuk pendidikan dan
pelatihan menekankan pada sifat manusiawi sumber daya manusia, nilai diri,
kemampuan, serta mengakui sistem-sistem alam antarmuka lingkungan dan kegiatan
belajar sebagai lawan dari mengajar. Heutagogi membahas masalah-masalah
adaptasi manusia dalam rangka memasuki milenium baru. Model ini menantang cara
berpikir lebih dari pada proses ketimbang isi, memungkinkan pembelajaraan lebih
memahami dunia mereka daripada dunia gurunya, memaksa guru pindah ke dunia
pembelajar, serta memungkinkan guru untuk melihat melampaui disiplin mereka
sendiri dan teori-teori yang favorit.
Heutogogi
menempatkan pelajar benar-benar bertanggung jawab atas apa yang mereka pelajari
dan kapan mereka belajar. Heutogogi menyediakan kerangka kerja bagi
pembelajaran yang menempatkan orang dewasa yang bertanggung jawab untuk lebih
maju. Heutogogi adalah studi tentang belajar menarik diri dan bersama-sama
dengan beberapa ide yang disajikan oleh berbagai pendekatan belajar. Ini juga
merupakan upaya untuk menantang beberapa ide tentang mengajar dan belajar yang
masih berlaku berpusat pada kebutuhan siswa dan guru. Dalam hal ini heutogogi
melihat masa depan manusia yang tahu carabelajar yang akan memberikan
keterampilan dasar dan kecepatan inovasi, serta perubahan struktur masyarakat
dan tempat kerja.
DAFTAR
PUSTAKA
Danim, Sudarwan. 2010. Pedagogi, Andragogi dan Heutagogi.
Bandung : Alfabeta.
#PENGERTIANPEDAGOGIK
#PENGERTIANANDRAGOGI
#PENGERTIANHEUTAGOGI

Tidak ada komentar:
Posting Komentar