Internalisasi(internalization)
diartikan sebagai penggabungan atau penyatuan
sikap, standar tingkah laku, pendapat, dan seterusnya di dalam
kepribadian(J.P. Chaplin :
2005).
Reber, sebagaimana dikutip Mulyana
mengartikan internalisasi sebagai menyatunya nilai dalam diri seseorang, atau
dalam bahasa psikologi merupakan penyesuaian keyakinan, nilai, sikap, praktik
dan aturan–aturan baku pada diri seseorang(Mulyana : 2004). Pengertian ini mengisyaratkan bahwa
pemahaman nilai yang diperoleh harus dapat dipraktikkan dan berimplikasi pada
sikap. Internalisasi ini akan bersifat permanen dalam diri seseorang.
Sedangkan Ihsan memaknai internalisasi
sebagai upaya yang dilakukan untuk memasukkan nilai–nilai kedalam jiwa sehingga
menjadi miliknya(Ihsan :
1997). Jadi masalah internalisasi ini
tidak hanya berlaku pada pendidikan agama saja, tetapi pada semua aspek
pendidikan, pada pendidikan pra-sekolah, pendidikan sekolah, pengajian tinggi,
pendidikan latihan perguruan dan lain – lain.
Dalam kaitannya dengan nilai,
pengertian– pengertian yang diajukan oleh beberapa ahli tersebut pada dasarnya
memiliki substansi yang sama. Dengan demikian penulis menyimpulkan bahwa
internalisasi sebagai proses penanaman nilai
kedalam jiwa seseorang sehingga nilai tersebut tercermin pada sikap dan
prilaku yang ditampakkan dalam kehidupan sehari–hari (menyatu dengan pribadi).
Suatu nilai yang telah terinternalisasi pada diri seseorang memang dapat
diketahui ciri–cirinya dari tingkah laku.
Pelaksanaan pendidikan nilai melalui
beberapa tahapan, sekaligus menjadi tahap terbentuknya internalisasi yaitu:
a.
Tahap
transformasi nilai.
Tahap ini merupakan suatu proses yang
dilakukan oleh pendidik dalam menginformasikan nilai–nilai yang baik dan yang
kurang baik. Pada tahap ini hanya terjadi komunikasi verbal antara pendidik dan
peserta didik(Muhaimin : 1996). Transformasi
nilai ini sifatnya hanya pemindahan pengetahuan dari pendidik ke siswanya.
Nilai–nilai yang diberikan masih berada pada ranah kognitif peserta didik dan
pengetahuan ini dimungkinkan hilang jika ingatan seseorang tidak kuat.
1. Tahap transaksi
nilai
Pada tahap ini pendidikan nilai
dilakukan melalui komunikasi dua arah yang terjadi antara pendidik dan peserta
didik yang bersifat timbal balik sehingga terjadi proses interaksi(Muhaimin : 1996). Dengan adanya transaksi nilai
pendidik dapat memberikan pengaruh pada siswanya melalui contoh nilai yang
telah ia jalankan. Di sisi lain siswa akan menentukan nilai yang sesuai dengan
dirinya.
2.
Tahap
tran-internalisasi
Tahap ini jauh lebih mendalam dari
tahap transaksi. Pada tahap ini bukan hanya dilakukan dengan komunikasi verbal
tapi juga sikap mental dan kepribadian. Jadi pada tahap ini komunikasi
kepribadian yang berperan aktif(Muhaimin : 1996). Dalam tahap ini pendidik harus betul–betul
memperhatikan sikap dan prilakunya agar tidak bertentangan yang ia berikan
kepada peserta didik. Hal ini disebabkan adanya
kecenderungan siswa untuk meniru apa yang menjadi sikap mental dan
kepribadian gurunya.
Secara garis besar tujuan pembelajaran
memuat tiga aspek pokok, yaitu: knowing,
doing, dan being atau dalam istilah yang umum dikenal aspek kognitif, psikomotor,
dan afektif. Internalisasi merupakan pencapaian aspek yang terakhir (being). Untuk selanjutnya penulis akan
memaparkan ketiga aspek tujuan pembelajaran tersebut secara singkat.
a.
Mengetahui (knowing).
Disini tugas guru
ialah mengupayakan agar murid mengetahui suatu konsep. Dalam bidang keagamaan
misalnya murid diajar mengenai pengertian sholat, syarat dan rukun sholat, tata
cara sholat, hal-hal yang membatalkan sholat, dan lain sebagainya. Guru bisa menggunakan
berbagai metode seperti; diskusi, Tanya jawab, dan penugasan. Untuk mengetahui
pemahaman siswa mengenai apa yang telah diajarkan guru tinggal melakukan ujian
atau memberikan tugas-tugas rumah. Jika nilainya bagus berarti aspek ini telah
selesai dan sukses(Tafsir : 2006).
b. Mampu melaksanakan
atau mengerjakan yang ia ketahui (doing)
Masih contoh
seputar sholat, untuk mencapai tujuan ini seorang guru dapat menggunakan metode
demonstrasi. Guru mendemonstrasikan sholat untuk diperlihatkan kepada siswa
atau bisa juga dengan memutarkan film tentang tata cara sholat selanjutnya
siswa secara bergantian mempraktikkan seperti apa yang telah ia lihat di bawah
bimbingan guru. Untuk tingkat keberhasilannya guru dapat mengadakan ujian
praktik sholat, dari ujian tersebut dapat dilihat apakah siswa telah mampu
melakukan sholat dengan benar atau belum(Tafsir : 2006).
c.
Menjadi seperti
yang ia ketahui (being)
Konsep ini
seharusnya tidak sekedar menjadi miliknya tetapi menjadi satu dengan
kepribadiannya. Siswa melaksanakan sholat yang telah ia pelajari dalam
kehidupan sehari-harinya. Ketika sholat itu telah melekat menjadi
kepriadiannya, seorang siswa akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaga
sholatnya dan merasa sangat berdosa jika sampai meninggalkan sholat. Jadi ia
melaksanakan sholat bukan karena diperintah atau karena dinilai oleh guru(Tafsir
: 2006).
Di sinilah
sebenarnya bagian yang paling sulit dalam proses pendidikan karena pada aspek
ini tidak dapat diukur dengan cara yang diterapkan pada aspek knowing dan
doing. Aspek ini lebih menekankan pada kesadaran siswa untuk mengamalkannya.
Selain melalui proses pendidikan di sekolah perlu adanya kerja sama dengan
pihak orang tua siswa, mengingat waktu siswa lebih banyak digunakan di luar
sekolah. Dalam kajian psikologi, kesadaran seseorang dalam melakukan suatu
tindakan tertentu akan muncul tatkala tindakan tersebut telah dihayati
(terinternalisasi).
Sekolah Muhammadiyah
adala lembaga pendidikan yang didirikan untuk kepentingan menginternalisasi
nilai-nilai keislaman dengan tujuan pendidikannya yaitu Membentuk manusia
muslim yang beriman, bertaqwa, berakhlaq mulia, cakap, percaya diri
sendiri, berdisiplin, bertanggung jawab,
cinta tanah air, memajukan dan memperkembangkan ilmu pengetahuan dan
ketrampilan dan beramal menuju terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar
benarnya( PP. Muhammadiyah Majlis Dikdasmen : 2000).
Pendidikan
Muhammadiyah membawa misi pendidikan Islam yang komprehensif dimana terjadi perimbangan
yang memadai antara pendidikan yang membekali siswanya dengan ilmu-ilmu yang
bermanfaat bagi kehidupannya secara material dan social dan pendidikan yang
bertujuan membentuk karakter keislaman kepada anak didiknya. Tujuan pendidikan yang demikian
juga tercermin dalam sistem pendidikan Muhammadiyah, terutama komponen bahan
pelajaran, yang merupakan kompromi antara ilmu-ilmu keislaman dengan ilmu
pengetahuan pada umumnya. Pendidikan
Islam tidak terlepas dari tujuan hidup manusia dalam Islam, yaitu untuk
menciptakan pribadi-pribadi hamba Allah yang selalu bertakwa kepadaNya, dan
dapat mencapai kehidupan yang berbahagia di dunia dan akhirat (lihat QS.
Al-Dzariat:56)
" Dan Aku tidak menciptakan jin dan
manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku"
Tujuan Pendidikan yang digagas KH
Ahmad Dahlan adalah lahirnya manusia-manusia baru yang mampu tampil sebagai
"ulama-ulama intelek" atau "intelek ulama", yaitu sorang
Muslim yang memiliki keteguhan iman dan Ilmu yang luas, kuat jasmani dan
rohani.
Muhammadiyah
merupakan organisasi sosial
keagamaan, lebih dikenal sebagai
organisasi yang berusaha memperbaharui pemahaman terhadap ajaran serta nilai-nilai
Islam sejak awal berdirinya pada tahun
1912. Muhammadiyah juga merupakan salah satu organisasi terpenting di Indonesia
sebelum Perang Dunia II sampai saat sekarang ini. Muhammadiyah didirikan tidak hanya didorong karena sikap reaksioner pemerintah kolonial Belanda
terhadap agama Islam dan perkembangannya, akan tetapi juga karena tuntutan
sejarah --yang mana umat Islam memerlukan sinar baru-- dalam menghadapi dunia
modern(Stoddart : 1966)
Sejak saat itu
Muhammadiyah berkembang menjadi salah satu organisasi terbesar di Indonesia
bahkan di dunia. Dilihat dari amal usahanya yang tersebar di seluruh pelosok
nusantara, tidak dapat dipungkiri bahwa Muhammadiyah --apabila kekayaan
Muhammadiyah diseluruh tanah air dikumpulkan-- maka dapat dikatakan bahwa
Muhammadiyah adalah bukan hanya LSM terbesar, tetapi juga konglomerat yang
sangat besar(Amien Rais : 1995).
Dinamika gerakan
Muhammadiyah mempunyai identitas hakiki sebagai Gerakan Islam, Gerakan Da‟wah dan Gerakan Tajdid atau
pembaharuan pemikiran dan pemahaman terhadap ajaran- ajaran Islam. Ide-ide
pembaharuan Muhammadiyah ini berasal dari
inspirasi KH. Ahmad Dahlan saat berkomunikasi
dengan para Modernis-Reformis Islam Timur Tengah dan penghayatannya terhadap
teks-teks Al Qur-an serta realitas sejarah umat Islam yang terbelenggu dalam kebodohan.
Dalam berhubungan
dengan para refor mis Islam Timur tengah tersebut banyak menangkap ide- ide
pembaharuan yang dibawa oleh Muhammad Abduh (1849-1905) diantaranya ialah: pertama,
mengajak umat Islam untuk memurnikan kembali ajaran Islam dari pengaruh dan
praktik- praktik keagamaan yang berasal dari bukan Islam. Kedua,
reformasi Pendidikan Islam. Ketiga, membela Islam(Abduh : 1969).
Bertolak dari pemikiran Abduh inilah Muhammadiyah mencanangkan cita-citanya
yaitu Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat
Islam yang sebenar-benarnya(PP. Muhammadiyah : 1995).
Selanjutnya
Muhammadiyah sebagai gerakan pembaharuan Islam tidak hanya berpijak pada
realitas sejarah yang menjadi salah satu faktor kelahirannya, yakni sebagai
santri yang kritis dan sadar akan pentingnya pemurnian ajaran Islam dari
akulturasi tradisi yang berujung pada sinkretisme dan mensosialisasikan
pendayagunaan akal dalam menyikapi sistem peribadatan sebagai ritus hingga
praktik-praktik sufisme eksklusif yang harus diluruskan saja, melainkan juga
berorientasi kepada menciptakan tata kehidupan sosial berdasarkan nilai-nilai
dan kaidah -kaidah ajaran Islam(Mulkhan : 1990).
Untuk menggapai
cita-citanya tersebut Muhammadiyah juga telah merumuskan konsepsi ‟Keyakinan dan Cita- cita Hidup‟- nya, antara lain : Pertama, Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya Aqidah Islam yang
murni. Kedua, Menegakkan nilai-nilai Akhlaqul Karimah yang
bersumber kepada Al Qur-an dan Al Sunnah Shahihah. Ketiga, Menegakkan peribadatan sesuai dengan yang
dituntunkan oleh Rasulullah SAW. Keempat,
Menegakkan pelaksanaan Muammalat Dunyawiyat berdasarkan ajaran agama Islam dan
menjadikannya ibadah kepada Allah SWT(PP Muhammadiyah : 2000).
Sasaran dakwah Muhammadiyah ada dua bidang : Bidang perorangan
dan Masyarakat. Bidang perorangan ada dua sub sasaran yaitu bagi yang sudah
Islam berupa pembaharuan pemahaman Islam(Reformasi-Tajdid), yaitu memunculkan
interpretasi-interpretasi baru terhadap
Nash-nash Qath’i dengan
menggunakan metode-metode dan kaidah-kaidah penafsiran dan Ijtihad yang benar
agar dapat diejawantahkan dalam kehidupan
sehari- hari sesuai dengan kebutuhan pada zamannya tanpa memanipulasi
konteks ajaran. Dan pemurnian ajaran Islam(Purifikasi-Tanzih), agar keimanan
dan peribadatan ummat Islam tidak bercampur dengan ajaran yang bukan Islam.
Bagi yang belum Islam berupa seruan dan ajakan untuk memeluk Islam. Sedangkan
dakwah kepada masyarakat bersifat Perbaikan,
Bimbingan dan Peringatan untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam
dalam kehidupan pribadi dan masyarakat(PP Muhammadiyah : 2000). Sejalan dengan
sejarah perkembangannya tidak dapat dipungkiri bahwa pada satu sisi
Muhammadiyah memiliki daya dinamika yang kuat pada perkembangannya baik
bertambahnya anggota maupun makin banyaknya amal usaha- amal usaha di berbagai
bidang. Namun tidak dapat dipungkiri pula pada sisi lain bahwasanya dengan perkembangannya
yang pesat itu Muhammadiyah mengalami penurunan pada kualitas amal usahanya
terutama jika dihubungkan dengan fungsi Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam yang dapat terungkap
diantaranya; Pertama, Mundurnya ruh Islam dalam kegiatan dan amal usaha
Muhamadiyah. Kedua, Kualitas madrasah/sekolah Muhammadiyah, terutama jika
dipandang dari sudut Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam. Ketiga, Ketertiban
organisasi dan administrasi. Walaupun
konstatasi tersebut di atas tidak selamanya obyektif, namun harus diterima bahwasanya hal ini merupakan gejala
umum di Muhammadiyah (Djazman : 89)
Suatu organisasi yang
tidak dapat lagi menguasai dan mengefektifkan anggotanya sendiri maka
organisasi tersebut akan ketinggalan dari perkembangan obyektif dan akan kehilangan daya inisiatifnya(PP Muhammadiyah, 2000).
Kalau hal ini terjadi pada Muhammadiyah maka Muhammadiyah akan kehilangan
fungsinya sebagai Jamaah yang
mengajak dan akan selalu
terombang-ambing oleh perubahan kondisi dan situasi sosial dimana ia hidup, dan tidak mungkin
lagi mempunyai daya agent of change dalam kaitan
fungsinya sebagai gerakan dakwah
Islam. Ikhtiyar untuk mengatasi hal tersebut secara konsepsional sudah sering
dilakukan, antara lain: dengan merumuskan konsep Kepribadian Muhammadiyah,
Penjelasan Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, Khittah- khittah Perjuangan
Muhammadiyah, Gerakan Jamaah Dakwah
Jamaah, Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, Tajdid Gerakan dan lain-lain yang setidaknya
dapat dipakai oleh persyarikatan untuk membentuk karakter perilaku
berorganisasi dan bermasyarakat, walaupun kadang konsep-konsep ini terabaikan
dan hanya menjadi karya monumental dikarenakan pimpinan banyak direpotkan oleh
hal-hal yang berbau teknis organisasi dan gesekan- gesekan dari luar yang
menuntut pimpinan untuk bersikap. Maka pada sisi lain tidak kalah pentingnya adalah
jamaah penggerak organisasinya yakni Kader yang mempunyai peranan penting,
karena dalam konteks pengembangan organisasi
ia memang dididik dan dilatih untuk menjadi inti dan tulang punggung organisasi. Kader membawa kearah mana
organisasi akan dibawa, maka ia berkedudukan, berperan stakeholder
dan berfungsi sebagai playmaker oganisasi
dimana ia berada. Kader sering diartikan hanya sebagai seorang calon pemimpin
saja. Dalam batas- batas tertentu pengertian tersebut memang benar, tetapi
sebenarnya kader mempunyai pengertian yang lebih luas dari itu. Kader adalah
kelompok manusia yang terbaik karena terlatih dan terdidik, yang merupakan
tulang punggung dari kelompok yang lebih besar dan terorganisir secara permanen. Dengan demikian,
salah satu tujuan kaderisasi dalam organisasi masyarakat Islam adalah
menciptakan pemimpin yang mampu menegakkan syariat Islam dan benar-benar
bisa membawa perubahan ke arah yang
lebih baik.
Kader berarti
elite ialah bagian yang terpilih dan
terbaik karena terdidik dan terlatih, yang berarti jantung dari suatu
organisasi. Karena itu jika kader suatu organisasi lemah, maka seluruh aspek
dan bagian- bagian dari organisasi akan lemah. Kader atau Cadre
(bahasa Perancis) berarti inti tetap pada suatu resimen. Daya juang suatu
resimen itu sangat tergantung pada kualitas kadernya yang merupakan pusat
semangat dan Avantgarde-nya(Djazman : 1989).
Dalam bahasa latin, kader adalah Quadrum yang berarti empat persegi
panjang, bujur sangkar, atau kerangka (Djazman
:1989) Jadi kader merupakan kelompok elit yang
mapan dan terlatih dengan baik, yang menjadi tulang punggung organisasi
dengan kualitas dan nilai lebihnya.
Kader yang berkualitas ditandai dengan adanya daya tanggap yang kuat
terhadap dinamika perkembangan zaman dan kemampuan antisipasi ke masa depan(Bahtiar
: 2004). Untuk itu, hanya orang- orang yang terpilih dan berpengalaman
dilapangan dan bermutu yang disebut kader.
Dari sejarah Islam kita
dapat menarik banyak pelajaran antara lain te ntang cara pembinaan kader di
kalangan ummat Islam yang pertama kali. Rumah Arqam bin Arqam yang terletak di dekat Safwa
tak jauh dari Masjid Al Haram, Makkah dipergunakan oleh Rasulullah untuk
menggembleng dan membina keislaman dan persaudaraan diantara orang-orang yang
pertama masuk Islam. Di rumah inilah untuk pertama kali dijalin ikatan
persaudaraan sesama muslim dan dijalin pula ikatan seorang muslim dengan
agamanya, maka kemudian lahirlah para shahabat Rasulullah yang menyadari
tugasnya untuk mendakwahkan
Islam di tengah- tengah masyarakat Jahiliyah. Untuk itu jelaslah diperlukan
keteguhan Iman, ketahanan mental dan kesediaaan
untuk berkorban apa saja dan diperlukan rasa solidaritas yang tinggi
diantara mereka(Djazman : 1989).
Sejarah perkembangan
Muhammadiyah tidak dapat dipisahkan dari pendidikan kader. Hal tersebut secara
sadar dimaksudkan untuk mengembangkan
sendiri anak didik agar mampu
berperan di masyarakat dan juga di Muhammadiyah. Begitu pula keberadaan kader dan pe rkaderan
yang bermutu tak dapat ditawar-tawar lagi
bagi keberlanjutan gerak dan perjuangan Muhammadiyah sekarang dan masa
depan. Dalam hal ini Prof . DR. Mukti Ali pernah menyatakan: Baik buruknya
organisasi Muhammadiyah pada masa yang akan datang dapat dilihat dari baik
buruknya pendidikan kader yang sekarang ini dilakukan. Jika Pendidikan Kader
Muhammadiyah sekarang ini baik, maka Muhammadiyah pada masa akan yang akan datang baik. Sebaliknya
apabila jelek, maka Muhammadiyah pada masa datang juga jelek(PP Muhammadiyah
MPK : 2008).
Kewajiban dan tanggung
jawab moral untuk menaruh kepedulian terhadap pengkaderan dan kaderisasi
ini tidak berbeda dengan peringatan Allah bagi ummat Islam agar
memperhatikan anak keturunannya atau generasi pelanjutnya . Sebagaimana
statement Allah :
Dan hendaklah takut kepada Allah orang -orang yang
seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka
khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka
bertakwa kepada Allah dan hendaklah
mereka mengucapkan Perkataan yang benar.”(QS : Al Nisa :
9)
Bagi Muhammadiyah
pengkaderan dan kaderisasi merupakan kegiatan yang tidak pernah berhenti(Never
Ending Job) sebagai kebutuhan pokok merupakan mainstream dari semua kegiatan
pemberdayaan anggota persyarikatan serta membutuhkan penanganan serius,
berkelanjutan dan Istiqamah. Pengkaderan dan Kaderisasi menjadi program penting
dan strategis mengingat misi dan eksistensi Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam
dan Dakwah Islam Amar ma’ruf Nahi Munkar yang bersumber pada Al Qur-an dan Al Sunnah
Shahihah(PP Muhammadiyah : 2000) yang berkesinambungan menuntut adanya alih
generasi dari waktu ke waktu. Oleh karena itu Muhammadiyah harus selalu
bergerak untuk kemajuan, dan dalam
gerakannya itu keberadaan kader yang bermutu dan konsisten memiliki arti penting bagi persyarikatan.
Sejak Muhammadiyah
berdiri pada tahun 1912, lembaga
kaderisasi yang dibentuk pertama kali oleh KH. Ahmad Dahlan adalah
Fatkhul Asrar Miftahus Saadah, Ikhwanul Muslimin, Wal Fajri, dll merupakan
kelompok pengajian yang dipimpinnya sendiri. Selanjutnya lembaga ini mengalami
penyempurnaan dan perubahan nama menjadi “Qismul Arqa”, Pondok Muhammadiyah di
tahun 1920 dan akhirnya menjadi Madrasah Muallimin dan Muallimat Muhammadiyah
Yogyakarta” (Djazman : 1989).
Meskipun bentuk dan
organisasi lembaga pendidikannya masih sederhana, namun produk yang
dihasilkannya telah mampu menopang keberadaan Muhammadiyah pada waktu itu
berkat pilihan metodik dan didaktik yang tepat. Tahun 1918 KH. Ahmad Dahlan
mendirikan Standart School Muhammadiyah
di Suronatan, Yogyakarta yang pengelolaannya dipercayakan kepada Somodirojo
bertujuan untuk mencetak intelektual muslim yang berakhlaq mulia, cakap percaya
pada diri sendiri dan berguna bagi masyarakat(PP Muhammadiyah MPK : 2008).
Sekolah ini berfungsi
sebagai tempat pendidikan juga diarahkan bagi kepentingan perkaderan untuk
Muhammadiyah. Disamping itu pada masa-masa selanjutnya Muhammadiyah juga mendirikan lembaga-lembaga
pendidikan lainnya, baik dalam bentuk madrasah maupun sekolah, bahkan juga
mendirikan pendidikan tinggi, namun sampai sekarang pernyataan resmi bahwa yang dinyatakan sebagai sekolah kader
bagi Muhammadiyah adalah Madrasah Muallimin, Muallimat kemudian Pondok Muhammadiyah
Hajjah Nuriyah Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta, Pendidikan Ulama
Tarjih Muhammadiyah (PTUM) dan Pondok Darul Arqam Muhammadiyah di beberapa
daerah di Indonesia. Alumni-alumni dari
lembaga pendidikan Muhammadiyah tersebut di kemudian hari akan menjadi
penyangga utama bagi keberadaan
Muhammadiyah dan berfungsi sebagai pusat sumber daya manusia yang penting.
Walaupun tidak semua sumberdaya Muhammadiyah berasal dari lembaga-lembaga itu,
namun tidak dapat dipungkiri bahwa
kader-kader Muhammadiyah yang tampil berasal dari lembaga
pendidikan Muhammadiyah yang notabene
berbasis dan memiliki tradisi
pengkaderan dan kaderisasi memunculkan
kader- kader yang memiliki komitmen dan integritas yang tinggi kepada
persyarikatan di berbagai tingkatan pimpinan Muhammadiyah. Di samping itu
Muhammadiyah juga mengadakan lembaga pengembangan potensi lainnya yang
diselenggarakan secara informal, seperti Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan,
organisasi- organisasi otonom Angkatan Muda Muhammadiyah seperti Pemuda
Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Ikatan Pelajar
Muhammadiyah, Tapak Suci Putera Muhammadiyah
dan lain - lain yang tergabung dalam Angkatan Muda
Muhammadiyah (AMM)( Bahtiar : 2004)
Melihat Amal Usaha
Muhammadiyah (AUM) bidang pendidikan sebenarnya Muhammadiyah mempunyai potensi
dan peluang untuk melahirkan kader-kader dari rahim AUM sendiri dan
siap memimpin Muhammadiyah sebagaimana pesan KH. Ahmad Dahlan : Menjadilah Insinyur, Guru, Mester, dan
kembalilah berjuanglah dalam Muhammadiyah(Mulkan : 1990).
Djoko Susilo dalam
Muhammad Ali memberikan penguatan bahwa penyiapan kader harus dikelola sebaik-baiknya, dan tempat
yang paling ideal adalah lembaga pendidikan Muhammadiyah dari tingkat dasar
sampai perguruan tinggi harus digarap dengan sungguh- sungguh apalagi tantangan
yang dihadapi semakin kompleks dan sulit(Ali : 1995). Kebutuhan merevitalisasi pendidikan
Muhammadiyah sebagai basis perkaderan dan kaderisasi sangat mendesak karena
beberapa alasan; Pertama, Basis tradisional
kaderisasi Muhammadiyah semakin memudar, seperti kegiatan pengajian ahad pagi,
pengajian bulanan dan lain - lain yang
biasanya diselenggarakan di tingkat
Cabang dan Ranting. Kedua,
berurutan dengan matinya kegiatan pengajian tersebut pada urutannya berdampak pada matinya pusat
kegiatan anggota Muhammadiyah yaitu
Ranting Muhammadiyah.
Tujuan pendidikan
Muhammadiyah sangat sesuai dengan maksud itu, ialah:Membentuk manusia muslim
yang beriman, bertaqwa, berakhlaq mulia, cakap, percaya diri sendiri, berdisiplin, bertanggung jawab, cinta tanah
air, memajukan dan memperkembangkan ilmu pengetahuan dan ketrampilan dan
beramal menuju terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar benarnya( PP.
Muhammadiyah Majlis Dikdasmen : 2000)
Sangatlah relevan dengan Latar belakang
Sistem Perkaderan Muhammadiyah yang memberikan ciri- ciri pengembangan sebagai
berikut :
1. Terinternalisasinya
nilai-nilai ajaran Islam yang bersumber pada Al Qur-an dan Al Sunnah dalam
Sistem Perkaderan Muhammadiyah.
2. Terevitalisasinya
sistem perkaderan yang terpadu dan teratur serta dilandasi keikhlasan dan
komitmen.
3. Termanifestasinya
Ideologi, Visi dan Misi Persyarikatan dalam sistem Perkaderan.
4. Terintegrasinya
perkaderan dalam lembaga pendidikan milik Persyarikatan (mulai dari Taman
Kanak- kanak sampai perguruan Tinggi)( PP Muhammadiyah MPK : 2008)
Dari keempat ciri
pengembangan di atas dapat dinyatakan bahwa Pendidikan Muhammadiyah merupakan
salah satu unsur penting dalam Sistem Perkaderan Muhammadiyah maka visi dan misinya pun harus seiring
dengan sistem perkaderan
Muhammadiyah, dan diantara uraian dari tujuan pendidikan muhammadiyah yaitu
setelah siswa mendapatkan ma teri Pendidikan Al Islam dan Kemuhammadiyahan akan
terjadi perubahan tingkah laku, untuk menyiapkan diri menjadi:
1. Kader
Persyarikatan Muhammadiyah, yang akan berjuang bersama-sama kader Muhammadiyah
lainnya dalam Persyarikatan.
2. Kader
Ummat Islam, yang mempunyai kompetensi dasar keislaman yang memadai beraqidah
dan beribadah yang benar, berakhaq mulia serta sanggup membela Islam dan ummat Islam.
3. Kader
bangsa Indonesia, yang berkepribadian Islam, bersama bangsa Indonesia lainnya
membela Negara Kesatuan Republik Indonesia dan
ikut bertanggung jawab membangun
bangsanya. (PDM Dikdasmen Surakarta : 1999)
Usaha-usaha untuk
mewujudkan hal tersebut di atas telah lama diusahakan dengan merumuskan Sistem
Pendidikan Muhammadiyah yang Kurikulum Pendidikannya mengintegrasikan antara materi pendidikan umum
dengan materi pendidikan Al - Islam dan Kemuhammadiyahan pada semua
jenis dan jenjang pendidikan Muhammadiyah.
Pendidikan Al Islam dan
Kemuhammadiyahan menjadi kurikulum wajib yang harus disampaikan kepada para
siswanya di setiap semester sebagai
kurikulum ciri khusus dari tahun ke
tahun mengalami pembaharuan, penyesuaian dan inovasi. Harapan untuk menjadikan
Sekolah Muhammadiyah yang ikut berperan mencetak kader-kader Muhammadiyah
dengan berbagai usaha tersebut bukan tanpa kendala; Pertama, tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan Lembaga-lembaga Pendidikan
Muhammadiyah(AUM) yang notabene
berada di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari sistem pendidikan
Nasional, dan sistem budaya masyarakat Indonesia, pola pikir dan pola perilaku
pendidikan masyarakat Indonesia yang mulai cenderung pragmatis. Kedua,
Raw-Input lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah tidak semuanya
mempunyai tujuan untuk menjadi siswa yang disiapkan dan atau bersedia disiapkan
untuk menjadi calon kader Muhammadiyah dan tidak cukup mempunyai kompetensi dan
komitmen keislaman serta sebagian besar latar belakang keluarga siswa yang heterogen yang tidak
cukup menjadi modal dasar untuk
dijadikan calon kader Muhammadiyah, Ketiga,
para pendididik dikalangan Muhammadiyah tidak semuanya memahami akan
kedudukan dan fungsinya sebagai pendidik yang ikut serta menyiapkan siswanya
untuk menjadi calon kader disebabkan karena minimnya sumber daya pendidik yang
mempunyai figur diversifikatif yaitu guru
sekaligus kader Muhammadiyah. Keempat, lembaga-lembaga Pendidikan
Muhammadiyah secara sistemik terdesak oleh tekanan kelembagaan dari sistem
pendidikan Nasional hanya menyiapkan
siswanya menjadi tenaga terdidik dan terampil secara akademis dan mengabaikan
tujuan pendidikan Muhammadiyah yang merupakan salah satu komponen sistem
perkaderan Muhammadiyah. Walaupun konstatasi diatas tidak semuanya benar
setidaknya sudah merupakan gejala umum yang ada dan patut mendapatkan
perhatian.
Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK) Muhammadiyah 1 Weleri Kendal pada tahun-tahun dua dasawarsa
sejak berdirinya dapat dijadikan satu contoh potret dari
konstatasi diatas. Namun pada awal dasawarsa ketiga menampakkan gejala untuk merapatkan
barisan pada usaha- usaha kembali menjadi salah-satu komponen sistem Perkaderan
Muhammadiyah berupa Amal Usaha Muhammadiyah dalam bidang pendidikan yang ikut
serta menyiapkan calon-calon Kader Muhammadiyah di masa-masa mendatang dengan
menampilkan pendidikan kejuruan yang tidak mengesampingkan internalisasi
nilai-nilai Al Islam dan
Kemuhammadiyahan baik melalui implementasi Kurikulum Ciri Khusus Al
Islam dan Kemuhammadiyahan yang digariskan oleh PP Muhammadiyah Majlis
Pendidikan Dasar dan Menengah pada pembelajaran teoretik-praktik maupun
kegiatan-kegiatan Intra Kurikuler, Ko-Kurikuler, dan Ekstra kurikuler yang mengarahkan siswanya untuk mengenal
lebih dekat dan terlibat sehingga diharapkan akan muncul
eksperiens hidup mereka pada
penghayatan akan kebesaran Islam dan dakwah Islam yang diperjuangkan oleh
Muhammadiyah
Komitmen SMK
Muhammadiyah 1 Weleri Kendal tersebut diatas mengharuskan untuk mendesain
ulang implementasi Pendidikan Ciri khusus Al Islam Ke muhammadiyahan yang tidak hanya sekedar kegiatan pembelajaran intra
kurikuler yang bertumpu pada keharusan untuk menyampaikan isi silabus Kurikulum
KTSP yang dibatasi oleh kotak-kotak
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
yang telah dipaketkan oleh PP Muhammadiyah Majlis Dikdasmen dan jam
pembelajaran yang sangat terbatas semata, melainkan juga penguatan pada
kegiatan pembelajaran intra kurikuler yang bersifat non struktural yang
menuntut adanya improvisasi pembelajaran, misalnya treatment
pada pembudayaan-pembudayaan(enkulturasi)
ajaran Al Qur-an dan Al Sunnah, pembudayaan disiplin, pembudayaan kekaderan,
pembudayaan bersosialisasi dengan Muhammadiyah beserta amal usahanya dan
lain-lain, maka SMK Muhammadiyah 1 Weleri memberikan beberapa pembudayaan amilu Al Shalihat kepada siswanya sebagai upaya internalisai
nilai-nilai Al Islam dan Kemuhammadiyahan
antara lain berupa tadarus Al
Qur-an pagi, kebiasaan Shalat Dhuha, Shalat Dhuhur berjamaah, Shalat Jumah, Qiyamullail,
Shalat-shalat Sunnah, berinfaq/shadaqah dan
menunai kan zakat fitrah maupun zakat
Amwal, pembiasaan berpakaian busana Muslim/muslimah dengan benar,
mengikuti pengajian-pengajian yang diselenggarakan oleh
Muhammadiyah, membangun sillaturrahim
baik dengan sesama siswa, guru, masyarakat maupun kepada warga Muhammadiyah,
berorganisasi di IPM dan berlatih Seni
Beladiri di TSPM, pelatihan fisik dan mental dan ketrampilan dengan
Hizbul Wathan serta Hiking dan kemah bersama/Torseni. Dialog dengan tokoh
Muhammadiyah baik dalam Kajian Pelajaran Kemuhammadiyahan maupun ketika Masa
Pembekalan Anggota(MAPETA) IPM pada masa
akhir pendidikan SMK, serta penyerahan
kader kepada pimpinan Persyarikatan ketika mulai kembali ke masyarakat.
Siswa SMK Muhammadiyah
1 Weleri sebagian besar berasal dari kota kecamatan Weleri dan sekitarnya
dengan berbagai latar belakang keyakinan dan pemahaman serta latar belakang keluarga yang dalam prosentase besar
adalah keluarga Nahdhiyun dan lain-lain. Hal ini sedikit banyak akan memberikan
pengaruh terhadap mereka dalam ”menerima” pendidikan
Islam ala Manhaj Muhammadiyah yang banyak menampilkan ciri puritanisme,
egalitarianisme, dan penggiatan 'amilu Al
Shalihah nyata yang mulai
jarang mereka temukan di lingkungan masyarakat dan atau keluarganya. Kultur
masyarakat pluralis, keberagamaan dan faham keIslaman berbeda yang dihadapi,
mengharuskan gerakan dakwah Muhammadiyah di Weleri khususnya dan Muhammadiyah pada
umumnya memperkaya perangkat dakwah berupa software dakwah yaitu perangkat teoretik seperti hasil riset,
metodologi, strategi, manajemen dan
hardware dakwah yaitu kader-kader yang menjadi ujung tombak
persyarikatan baik muballigh/da’i maupun guru Muhammadiyah. Atau dengan ungkapan lain Muhammadiyah sebagai sebuah gerakan Islam
pasti membutuhkan kader-kader pelopor, pelangsung dan penyempurna perjuangan
Muhammadiyah. Oleh karena itu, sejak kelahiran Muhammadiyah, tuntutan tersebut
secara berkesinambungan harus diwujudkan dan pemikiran sistematisnya diformulasikan
dalam bentuk Sistem Perkaderan.
Pengkaderan dan
kaderisasi menjadi program yang sangat
penting dan strategis. Keberadaan kader itu bukan saja untuk keberlangsungan
regenerasi dan suksesi kepemimpinan yang
terjaga, tetapi juga penambahan personil yang memperkuat barisan dakwah dan
jihad yang terorganisir(PP Muha mmadiyah, MPK : 2007).
Doelwaheed, 2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar